Selasa, 12 Januari 2010

" Pejuang "


Kami menantang Hujan,
melawan gerimis panas,
menaklukkan ego kami
kapan pun dan dimanapun
mereka bagi kami bukan musuh tapi kawan yang berkhianat.

sekedar mengulang preambule undang-undang,
" penjajahan itu harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan pri kemanusiaan dan pri keadilan "
tapi kita masih dijajah oleh bangsa kita sendiri,
bahkan oleh pemimpin kita, seperti di breuh sigupai ini,
masyarakat dibodohi,
dijadikan kerbau untuk membajak,,,

biarlah kami yang melawan karena kami "pembangkang"

Senin, 11 Januari 2010

Capek...!


aku berteriak sekuat tenaga :
silahkan kalian anggap aku apa?
binatang,
manusia setengah dewa,
atau apa yang menurut kalian pantas,,

aku capek dengan hidup ini,
aku bosan sudah berjalan,
tapi aku tak mau jadi pelanggar: mati bunuh diri,
biar malaikat saja yang menjemput ku,
karena mereka sudah tau kapan waktu yang pantas untuk mencabut nyawaku.

aku mau menghabiskan sisa hidup ini untuk mu,
untuk mu yang telah membuat ku kecewa,
yang sudah membuat aku terhina,
padahal kamu orang yang ku kagumi: biar kan sisa hidup ini untuk mu: membunuh mu.

Satu


Satu adalah sihir mu yang melupakanku pada diriku,
satu adalah kehadiranmu yang menyengatku,
satu kau bagai laut biru yang dalam : ingin aku menyelam kedasarnya,
satu adalah senyum
satu adalah tatapanmu yang membuat aku ragu.

Kuta Tinggi tak Tinggi Lagi


Dimana kau kini,
aku mencari sosokmu,
bukan untuk memeluk atau merangkulku,
tapi aku mau ajak kau berbicara tentang sesuatu yang sudah kau lupakan.
sambil menikmati es buah atau mie goreng pakek udang.

dimana kini,
kau seperti Bimbi yang sudah lupa kampung halaman,
pada deretan sawah leluhur, pada pematang yang kau injak beberapa bulan silam.
dan itu juga kamu, yang sudah melupakan periuk tua dulu.

aku begitu ingat,
saat kau berjanji untuk tetap menantang badai bersama,
meski kekuatan kita tinggal pada segumpal nasi merah, dan harus kita bagi bersama.
ternyata semua sudah tidak ada, sebuah kursi sudah mengajak dirimu untuk terlelap,
dalam suka yang tidak abadi, karena duka akan menjemputmu.

Sabda Cinta


lizinkan aku mengusap embun di taman alam ,
sambil kudaki pelantaran terjal,
meraih cinta yang tak kunjung datang oleh sebab
ruku', atau Sujud yang kosong selalu memaknai datangnya hari untuk memaknai
kekuatan :"Cinta"
aku bukan " Khahlil Gibran " yang mampu merangkai kata-indah untuk semerbak esok hari,
aku juga bukan Pujangga yang setiap saat membuat malam menjadi indah tanpa bulan.
aku mau merangkai cinta dengan semangat tanpa bintang pun dunia ini akan lengkap,
meski kau adalah angan dalam pikiran,
atau harapan yang mati sebelum hari berganti,
lewat senandung yang belum rampung tertulis
disebabkan tinta tidak mau melekat pada kertas putih selebar telapak tangan,
melalui malam yang belum sempat mengirim rindu karena gerimis mengusik mentari,
untuk awan yang belum sempat bergumpal karena badai,
cinta ini ingin ku tulis dengan batasan dan isyarat Tuhan,

seberapa panas matahari membakar saat tubuh berada di gurun pasir tanpa makhluk?
seberapa tajam amunisi membidik jasad di kesunyian,
sepanas dan setajam itu perasaan yang ku pahat di atas bahtera hati mu.
ini adalah sabda Cinta yang ku tulis ditengah galau,
saat kau mengatakan tidak pada Cinta hina seperti ini.

Rabu, 23 Desember 2009

Tumpah


Sedikit tersisa,
untuk ku dan aku harus berbagi denganmu yang merengek,
daripada kau merebut dengan kasar,
biarkan ini untukmu.

Jumat, 20 November 2009

Aku bercerita



aku muali dari seorang pangeran yang mencuri sajak ku,
dengan senjata anjing penggonggong, sambil berlari dan terengah-engah,
kemudian dia berhenti, sambil mencium aroma tubuh ku untuk menghilangkan lelah nya,
seperti harum mawar di bulan terakhir tahun lalu,
bercampur sedikit harum keringat.

aku harus mengakhiri cepat,
karena waktu itu aku terjatuh dan tak bisa berkata lagi.